Anak Sunat Malah Tantrum, Begini Cara Membujuknya

Membujuk anak sunat saat mereka sedang tantrum, mungkin akan terasa sulit dan melelahkan. Tak sedikit orangtua yang khawatir, sehingga tak jarang mereka akan memikirkan opsi untuk menunda anak sunat. Menangis, mengamuk, menjerit, melempar barang sampai berguling-guling di lantai pasti bikin Ayah dan Bunda panik, bukan? Tapi jangan khawatir Ayah dan Bunda, ini merupakan sebuah proses dari tumbuh kembang sang anak, lho. Jangan sampai Ayah dan Bunda terpancing emosi juga ya.

Agar bisa mengatasi anak yang sedang tantrum, apalagi saat mau sunat yuk ketahui lebih dulu apa itu tantrum. Simak penjelasan berikut ini!

Umumkah Anak Tantrum?

Tantrum merupakan keadaan ketika anak meluapkan emosinya akibat terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya. Sehingga, kemudian mereka hanya bisa meluapkan emosinya dengan menangis, mengamuk, menjerit, melempar barang sampai berguling-guling di lantai.  Pada kasus tertentu, penyebab tantrum pada anak mungkin bisa terjadi karena gangguan perilaku atau masalah psikologis, seperti autisme.

Hasil penelitian pada 2007 yang dipublikasikan dalam The Journal of Pediatrics, mengungkapkan bahwa ada sekitar 70 persen anak berusia 18-24 bulan mengalami tantrum. Namun, bukan berarti tantrum tersebut hilang pada usia 2 tahun. Bahkan, beberapa peneliti menemukan, kejadian tantrum tertinggi terjadi pada usia 3-5 tahun. Sekitar 75 persen anak prasekolah juga masih mengalami tantrum.

Jadi, Ayah dan Bunda jangan khawatir jika anak mengalami tantrum, apalagi sampai ikut terbawa emosi. Saat kondisi ini terjadi, sebaiknya, cobalah untuk memahami anak.

Ada dua jenis tantrum, antara lain:

1.Tantrum Manipulatif

Terjadi ketika keinginan anak tidak terpenuhi dengan baik. Tantrum ini dibuat-buat oleh sang anak agar keinginan mereka bisa terpenuhi. Tidak semua anak mengalami jenis ini karena tantrum manipulatif bisa muncul ketika ada penolakan.

2.Tantrum Frustasi

Umumnya penyebab tantrum frustasi terjadi karena anak belum bisa mengekspresikan dirinya dengan baik. Misalnya, pada anak berusia 18 bulan rentan mengalami kondisi ini akibat merasa kesulitan mengatakan dan mengekspresikan apa yang ia rasakan pada orang lain.

Tantrum juga bisa terjadi, saat anak mau sunat. Bisa karena takut atau belum siap namun orangtuanya memaksakan untuk menjalani prosedur sunat anak. Kalau sudah tantrum, apa yang harus orangtua lakukan?

Anak Sunat Malah Tantrum, Begini Cara Membujuknya

Tantrum pada anak tidak boleh dibiarkan berkepanjangan karena akan bisa menjadi kebiasaan yang buruk dan memengaruhi perkembangannya kemudian hari. Ayah dan Bunda bisa mencoba menghentikan tantrum pada anak dengan melakukan beberapa cara berikut:

1. Tenang

Tetap tenang dan jangan membalas berteriak, marah atau memaksa anak menghentikan amukannya. Sikap yang tenang akan membuat anak lebih mudah untuk diatasi. Bujuk anak dengan mengajaknya berbicara dan tenangkan emosi mereka yang sedang meluap-luap. Ayah dan Bunda bisa juga mengjaknya berpindah ke tempat baru yang lebih sepi.

2. Cari tahu penyebab tantrum

Ada banyak hal bisa menjadi penyebab tantrum, salah satunya saat mau sunat anak. Salah satu cara untuk mengenali penyebabnya adalah dengan menanyakan secara langsung, “Kamu takut?” “Kamu belum siap?” Anak mungkin akan mengangguk atau menggeleng. Jika mereka mengangguk, maka Ayah dan Bunda bisa membujuk mereka dengan meyakinkan kalau mereka akan baik-baik saja, Ayah dan Bunda akan menemani proses sunat mereka, atau bisa juga dengan memilih layanan sunat di rumah yang memang merupakan tempat yang anak kenal dan tidak asing. Selain itu, bisa juga orangtua akan memberikan hadiah yang anak inginkan jika mau sunat.

Baca Juga: Cara Membujuk Anak Agar Berani Sunat

3. Mengalihkan Perhatiannya

Anak kecil sangat mudah melupakan sesuatu dan tertarik pada hal baru. Nah, bisa memanfaatkan hal ini untuk mengalihkan perhatiannya saat tantrum. Misalnya, memberikan mainan, meminjamkan ponsel agar mereka bisa menonton film kartun kesukaan mereka.

4. Jangan memukul atau Mencubit

Jangan memukul atau mencubitnya yang justru dapat membuat anak jadi suka memiliki kebiasaan memukul untuk menyampaikan keinginannya. Sebagai gantinya, orangtua bisa memeluk atau mencium untuk menenangkan emosinya. Selain menenangkan, pelukan dan ciuman juga bisa menjadi cara untuk menunjukkan bahwa Ayah dan Bundanya memang benar-benar peduli dan mencintai mereka.

Namun, jika anak masih belum siap untuk sunat sebaiknya jangan memaksakan. Khawatirnya akan menyebabkan mereka trauma. Seiring berjalannya waktu dengan pengertian dan bujukan orangtua atau saudara bahkan temannya, mereka akan mau sunat sendiri tanpa paksaan.

Jika tantrum pada anak tampak terlalu sering, atau membuatnya menyakiti dirinya atau orang lain, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendiskusikan perilaku tersebut dan cara tepat menanganinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Jl Taman Margasatwa Raya No 14 Rt 6/Rw 1, Ragunan, Jati Padang, Ps. Minggu, DKI Jakarta 12550.

0811-1661-005

rumahsunatanmarketing@gmail.com

Daftar Sekarang